Kita telah sampai di garis akhir, di mana debu pertempuran telah mengendap dan suara denting pedang hanya menjadi gema yang memudar. Dalam semua bab yang kita susun, kita tidak sedang menulis tentang kematian, melainkan tentang kelahiran kembali.
Kurusetra adalah rahim yang keras. Di sana, kita melihat bahwa kebenaran (Dharma) sering kali datang dengan wajah yang penuh luka, kaki yang berdebu, dan hati yang berlubang demi tujuan yang lebih besar.
Duryodhana telah jatuh, membawa serta ego yang membakar dunia. Karna telah pulang ke pelukan matahari, melepaskan zirahnya yang terakhir. Shalya telah menemukan kedamaian di balik pengkhianatannya. Dan Yuyutsu berdiri sebagai saksi hidup, sebuah jembatan antara masa lalu yang berdarah dan masa depan yang penuh harapan.

















