Buku Mesin Teknokrasi menelaah perubahan pengetahuan menjadi kekuasaan melalui perakitan keahlian, angka, prosedur, audit, program, dan teknologi dalam pemerintahan. Mesin teknokrasi bekerja dengan membentuk penglihatan pejabat, menyempitkan pilihan politik, serta mengikat rakyat melalui kategori teknis. Paradoksnya, pemerintah semakin mampu melihat, menghitung, dan mengawasi masyarakat, tetapi belum tentu semakin sanggup memahami serta menyelesaikan perkara rakyat. Dominasi mengeras ketika indikator menggantikan tujuan, data menyingkirkan pengalaman, kepatuhan mengalahkan tanggung jawab, dan kegagalan justru melahirkan tambahan prosedur. Kritik buku ini tidak menolak ilmu maupun keahlian, melainkan menolak perubahan kompetensi menjadi kedaulatan. Jalan republik menempatkan keahlian sebagai penerang pilihan, pemerintah sebagai pengambil keputusan dan penanggung akibat, serta rakyat sebagai pemilik hak untuk mengetahui, membantah, mengoreksi, menggugat, dan memperoleh pemulihan. Mesin harus diperintah oleh republik.

















