Mengapa kita terus menggulir layar meski merasa lelah?
Mengapa tubuh semakin pasif, tetapi pikiran justru semakin penuh?
Buku Kritik Budaya Digital Indonesia menghadirkan pembacaan kritis terhadap praktik keseharian masyarakat di era media sosial. Fenomena doomscrolling, gaya hidup sedentari (couch potato), budaya viral, dan tekanan algoritmik dibahas sebagai gejala budaya digital yang membentuk cara kita berpikir, merasa, dan berelasi.
Dengan gaya ilmiah-populer, buku ini menghubungkan teori komunikasi, kajian budaya, dan riset kesehatan mental dengan realitas masyarakat Indonesia. Buku ini tidak menempatkan teknologi sebagai kambing hitam, melainkan sebagai medan budaya yang perlu dipahami, dikritisi, dan dikelola secara sadar.
Ditujukan bagi generasi muda, akademisi, pendidik, dan pembaca umum, buku ini mengajak kita berhenti sejenak dari linimasa untuk bertanya: budaya digital seperti apa yang sedang kita bangun, dan sejauh mana budaya itu masih memihak pada kesehatan mental dan kemanusiaan kita?

















