Hubungan mertua dan menantu sering kali berada di antara jarak yang tak terlihat dekat secara keluarga, namun jauh dalam rasa. Di antara keduanya, kerap tumbuh prasangka, salah paham, dan keinginan untuk menjadi yang paling berarti bagi satu pria yang sama. Padahal, sejak awal mereka tidak pernah sedang bersaing. Mereka hanya mencintai orang yang sama, dalam bentuk yang berbeda.
Yang satu mencintainya sebagai anak yang dibesarkan dengan pengorbanan. Yang satu mencintainya sebagai suami yang dipilih untuk menemani perjalanan hidup. Dua cinta yang sama-sama tulus, namun sering kali dipertemukan dalam cara yang keliru.
Buku SUAMIMU ANAKKU, ANAKMU SUAMIKU Mengajak seluruh mertua dan menantu disemua kalangan untuk menjadi saling, tidak menjadi merasa paling, menghadirkan renungan yang lembut tentang arti menerima, memahami, dan menempatkan kasih pada porsinya. Bahwa kedamaian tidak lahir saat salah satu mengalahkan yang lain, melainkan ketika keduanya berhenti membandingkan dan mulai saling memuliakan.
Sebab keluarga bukan tempat persaingan, melainkan ruang untuk saling menjaga. Dan cinta yang dewasa tidak menuntut untuk dipilih, tetapi memahami rasa pada porsinya.

















