Kita bukan Edgar Hartono.
Kita mungkin jauh lebih baik dari itu. Kita mendaur ulang barang rongsokan…, kadang-kadang, ya. Kita matikan lampu dan AC…, kalau ingat. Kita cukup peduli lingkungan…, tetapi hanya di kolom komentar saja hahaha. Kita jelas bukan bos galak bermargin tebal yang menutup laptop karyawannya di tengah presentasi.
Tentu saja bukan.
Ini cerita tentang seorang juragan keramik yang menganggap “go green” sebagai arisan orang kaya kelebihan waktu luang—sampai pasar, putrinya sendiri, seorang anak ingusan idealis, dan seorang kompetitor perempuan yang lebih cerdas darinya bergiliran menamparnya dengan kenyataan. Edgar nggak berubah karena ia jadi suci. Ia berubah karena kepepet. Dan justru di situ masalahnya: kita semua menunggu kepepet.
Buku ini nggak akan mengajari kita mencintai bumi. Buku ini cuma menunjukkan, dengan sopan dan sedikit menyebalkan, bahwa pabrik paling berpolusi yang kita miliki bukan di Karawang…, tetapi di antara kedua telinga kita. Kabar baiknya: pabrik itu bisa di-upgrade. Kabar buruknya: ongkos renovasinya dibayar pakai ego.

















