Ribuan kartu asuransi nelayan sudah dicetak. Anggaran cair. Kemitraan ditandatangani.
Tahun kedua, program berhenti.
Bukan karena korupsi. Bukan karena kehabisan dana. Tapi karena tidak seorang pun pernah menjelaskan manfaatnya dalam bahasa yang nelayan pahami.
Kartunya ada. Tapi tidak pernah benar-benar sampai.
Abdul Rachim bukan akademisi yang menulis dari balik tumpukan jurnal. Ia birokrat—bertahun-tahun keluar-masuk kantor pemerintahan Belitung Timur, dari Kepala Seksi hingga Camat hingga Sekretaris Satpol PP. Dan satu pertanyaan terus menggerogotinya: kenapa kebijakan yang substansinya bagus bisa kandas di lapangan?
Jawabannya ternyata tidak ia temukan di literatur administrasi publik. Ia menemukannya di pemasaran.
Dari situ lahir Model 10P—kerangka yang membuktikan bahwa merancang kebijakan yang baik baru separuh pekerjaan. Separuh lainnya adalah memastikan kebijakan itu sampai—ke meja warga, ke kebiasaan petugas, ke kepercayaan masyarakat yang selama ini skeptis.
Kebijakan Bagus Saja Tidak Cukup! ditulis untuk ASN yang programnya tidak berdampak seperti yang diharapkan, untuk mahasiswa yang merasakan jurang antara kelas dan lapangan, dan untuk siapa pun yang pernah bertanya-tanya kenapa niat baik tidak pernah cukup.
Memang tidak pernah. Yang menentukan adalah bagaimana kebijakan itu dirancang untuk tiba.

















