Kenapa seseorang bisa jatuh cinta hanya dari satu kali kontak mata? Kenapa mantan selalu terasa ‘lebih baik’ setelah bertahun-tahun berlalu? Dan kenapa banyak orang lebih sibuk mempertahankan fantasi ketimbang membangun hubungan yang nyata?
“The Engineering of Love” membedah pertanyaan-pertanyaan itu menggunakan cara berpikir seorang insinyur: sistematis, sedikit dingin, tetapi jujur. Dimulai dari mekanisme halo effect dan crush yang tak pernah disetujui, buku ini menelusuri bagaimana otak manusia membangun ‘bioskop’ fantasinya sendiri, mengapa friendzone terasa menyakitkan, hingga mengapa perselingkuhan sebenarnya tidak dimulai di tempat tidur.
Pada bagian kedua, pembahasan bergeser ke arah yang lebih ‘struktural’: mengapa pernikahan tidak membutuhkan cinta yang hebat, mengapa akad yang hanya tiga menit bisa mengubah seluruh sistem kehidupan dua orang, hingga bagaimana menjaga pandangan bisa dipahami sebagai bentuk manajemen risiko.
Ditulis dengan gaya jenaka, analogi teknik yang kadang absurd, tetapi tetap serius di bagian yang penting, buku ini cocok untuk siapa pun yang ingin memahami cinta bukan hanya dari sisi perasaan, tetapi juga dari sisi struktur yang membuatnya bisa bertahan lama.

















