Di balik setiap penyintas gangguan kejiwaan, ada sebuah keluarga yang turut berjuang dalam diam. Mereka menghadapi stigma, kelelahan, ketidakpastian, dan berbagai tantangan yang sering kali tidak terlihat oleh masyarakat. Namun, ketika berbicara tentang pemulihan, perhatian justru lebih banyak tertuju kepada penyintas, sementara keluarga yang menjadi penopang utama kerap terlupakan.
Buku ini mengajak pembaca melihat kesehatan jiwa melalui sudut pandang yang lebih luas: bahwa pemulihan bukan sekadar proses klinis, melainkan perjalanan kemanusiaan yang melibatkan keluarga, lingkungan, layanan sosial, serta kebijakan yang berpihak pada martabat manusia. Dengan memadukan kajian ilmiah, perspektif kesejahteraan sosial, nilai-nilai Islam, dan praktik family recovery, buku ini menghadirkan pemahaman baru tentang pentingnya membangun keluarga yang kuat sebagai fondasi pemulihan yang berkelanjutan.
Lebih dari sekadar membahas gangguan kejiwaan, buku ini mengajak kita merefleksikan satu pertanyaan mendasar: mungkinkah seseorang benar-benar pulih jika keluarga yang mendampinginya masih terluka? Dari pertanyaan itulah lahir sebuah keyakinan bahwa pemulihan yang sejati tidak hanya mengembalikan harapan bagi penyintas, tetapi juga memulihkan keluarga sebagai ruang pertama tempat kehidupan kembali bertumbuh.

















