Lompat ke konten

Bintang Pustaka I Penerbit Buku Pendidikan I Anggota IKAPI

Obral!

Perubahan Pemikiran terhadap Perubahan Iklim di Indonesia

Harga aslinya adalah: Rp107.000.Harga saat ini adalah: Rp90.950.

Cara pandang CHES (Coupled Human and Earth System) telah mengubah pemahaman tentang perubahan iklim secara signifikan. Cara pandang ini sesuai dengan ontologi dan epistemologi ilmu geografi. Dengan demikian, peran dan manfaat perspektif ilmu geografi dalam mengidentifikasi permasalahan perubahan iklim juga telah bergeser.

CHES ini memengaruhi tata kelola masyarakat agar menjadi siap siaga. Antisipasi terhadap risiko perubahan iklim diperlukan hingga munculnya fenomena baru, seperti terjadinya siklus Siklon Senyar pada November 2025 lalu di Pulau Sumatra. Bagaimana kita mempersiapkan diri dari kerentanan menuju ketangguhan? Peran negara/pemerintah, mulai dari kebijakan hingga tata kelola operasional, semakin dibutuhkan. Salah satu upaya penting, yaitu meningkatkan literasi masyarakat lokal sebagai pilar ketahanan, khususnya di daerah berisiko tinggi akibat bahaya perubahan iklim.

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (iptek) semakin berperan dan berfungsi dalam menangani perubahan iklim yang dinamis. Tidak hanya menangani mitigasi dan adaptasi terhadap risiko perubahan iklim, tetapi juga dapat menghasilkan produk berbasis iptek. Salah satunya adalah Teknologi Modifikasi Cuaca yang telah banyak membantu mengurangi risiko perubahan iklim di suatu daerah, baik di daerah yang mengalami kekeringan ataupun kebakaran hutan maupun di daerah yang mengalami banjir besar. Pemanfaatan iptek juga dapat memperbaiki kemampuan dalam memprediksi kejadian bahaya dan menentukan peringatan dini sehingga daerah yang berpotensi mengalami risiko bencana menjadi lebih siap siaga.

Paradigma CHES ini telah membawa tatanan baru dalam penanganan perubahan iklim secara sistemik. Selain menguatkan daya tahan (resiliensi) masyarakat, paradigma ini juga memperkuat kelembagaan dan sistem kebijakan melalui peraturan perundang-undangan. Selain itu, paradigma ini membuka peluang kreatif hingga terbangunnya invensi yang kemudian menjadi produk dan sistem inovatif. Produk tersebut dapat memberikan kemanfaatan bagi keberlanjutan kehidupan penduduk di daerah yang berisiko, seiring dengan dinamika perubahan iklim yang terus berubah. Bersamaan dengan perkembangan ilmu geografi (spatial science), kehadiran nyata fenomena perubahan iklim di Indonesia tidak hanya dikaitkan dengan penanganan risiko bencana, tetapi juga dapat menjadi harapan untuk merealisasikan pencapaian target Pembangunan Indonesia Emas

 

Kategori: Tag: ,

Cara pandang CHES (Coupled Human and Earth System) telah mengubah pemahaman tentang perubahan iklim secara signifikan. Cara pandang ini sesuai dengan ontologi dan epistemologi ilmu geografi. Dengan demikian, peran dan manfaat perspektif ilmu geografi dalam mengidentifikasi permasalahan perubahan iklim juga telah bergeser.

CHES ini memengaruhi tata kelola masyarakat agar menjadi siap siaga. Antisipasi terhadap risiko perubahan iklim diperlukan hingga munculnya fenomena baru, seperti terjadinya siklus Siklon Senyar pada November 2025 lalu di Pulau Sumatra. Bagaimana kita mempersiapkan diri dari kerentanan menuju ketangguhan? Peran negara/pemerintah, mulai dari kebijakan hingga tata kelola operasional, semakin dibutuhkan. Salah satu upaya penting, yaitu meningkatkan literasi masyarakat lokal sebagai pilar ketahanan, khususnya di daerah berisiko tinggi akibat bahaya perubahan iklim.

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (iptek) semakin berperan dan berfungsi dalam menangani perubahan iklim yang dinamis. Tidak hanya menangani mitigasi dan adaptasi terhadap risiko perubahan iklim, tetapi juga dapat menghasilkan produk berbasis iptek. Salah satunya adalah Teknologi Modifikasi Cuaca yang telah banyak membantu mengurangi risiko perubahan iklim di suatu daerah, baik di daerah yang mengalami kekeringan ataupun kebakaran hutan maupun di daerah yang mengalami banjir besar. Pemanfaatan iptek juga dapat memperbaiki kemampuan dalam memprediksi kejadian bahaya dan menentukan peringatan dini sehingga daerah yang berpotensi mengalami risiko bencana menjadi lebih siap siaga.

Paradigma CHES ini telah membawa tatanan baru dalam penanganan perubahan iklim secara sistemik. Selain menguatkan daya tahan (resiliensi) masyarakat, paradigma ini juga memperkuat kelembagaan dan sistem kebijakan melalui peraturan perundang-undangan. Selain itu, paradigma ini membuka peluang kreatif hingga terbangunnya invensi yang kemudian menjadi produk dan sistem inovatif. Produk tersebut dapat memberikan kemanfaatan bagi keberlanjutan kehidupan penduduk di daerah yang berisiko, seiring dengan dinamika perubahan iklim yang terus berubah. Bersamaan dengan perkembangan ilmu geografi (spatial science), kehadiran nyata fenomena perubahan iklim di Indonesia tidak hanya dikaitkan dengan penanganan risiko bencana, tetapi juga dapat menjadi harapan untuk merealisasikan pencapaian target Pembangunan Indonesia Emas

 

Jumlah Halaman

xiv + 150

Penulis

"Dr. Drs. Andi Eka Satya, M.Eng. Drs. Asep Karsidi, Ph.D., M.Sc., APU Dr. Drs. Triarko Nurlambang, Grad.Dipl., M.A."

Ukuran Buku

15 x 23

Kategori