“Apakah senyum seorang pejuang pangan sebanding dengan kelimpahan hasil bumi yang mereka panen?”
Selama ini, kedokteran gigi sering kali dianggap sebagai dunia yang steril dan statis di balik dinding putih klinik perkotaan. Akan tetapi, buku ini mengajak kita melakukan perjalanan radikal melampaui batas-batas klinis tersebut menuju jantung ekosistem agroindustri, tempat kemanusiaan diuji oleh kerasnya alam dan dinamika ekonomi.
Dari paparan agrokimia yang menyerang mukosa mulut di dataran rendah, ancaman mikroplastik di pesisir, hingga paradoks karies di lumbung pangan dataran tinggi, setiap bab dalam buku ini adalah sebuah manifesto tentang martabat raga. Dengan lensa humaniora, kita tidak lagi hanya melihat gigi yang rusak, tetapi narasi tentang ketimpangan akses, tantangan ergonomi, dan kerinduan akan keadilan kesehatan.
Buku ini menawarkan visi masa depan yang berani: sebuah sinergi antara teknologi tepat guna, kebijakan yang memihak, dan pemberdayaan komunitas yang berakar kuat pada realitas sosial. Inilah panduan bagi para praktisi, akademisi, dan pengambil kebijakan untuk memastikan bahwa kemajuan industri tidak pernah mengorbankan martabat manusia.
Sebab, kedaulatan pangan nasional sejati dimulai dari kesehatan
raga dan senyum bermartabat para penanamnya.

















