Maluku Utara, sang Jazirah al-Mamluk, bukan sekadar pusat peradaban rempah dunia, melainkan juga rahim bagi Kesultanan Islam tertua di Nusantara. Di sini Islam tidak hadir sebagai kekuatan yang menghapus identitas asal, tetapi tumbuh sebagai nilai yang mengharmonisasikan kearifan lokal dengan ajaran Islam. Interaksi keduanya selama berabad-abad telah melahirkan sebuah simfoni spiritualitas yang khas, lentur, tetapi tetap teguh memegang prinsip tauhid.
Buku ini membedah secara kritis bagaimana ajaran universal Islam bersenyawa dengan tradisi lokal di berbagai penjuru Maluku Utara. Mulai dari filosofi Oho Dina di Ternate, mistisisme ritual Salai Jin di Tidore, hingga nilai persatuan dalam rumah adat Sasadu di Jailolo dan Hibualamo di Tobelo. Penulis juga menelusuri jejak-jejak akulturasi dalam tradisi Popas Lipu di Bacan, perayaan Cokaiba di Bumi Fagogoru, kemeriahan Hajat Umum di Loloda, hingga kearifan Lompoadohoi di Sula.
Di tengah derasnya arus modernisasi dan tantangan pemahaman agama yang kaku, karya kolaborasi ini hadir sebagai upaya menyelamatkan khazanah pengetahuan lokal yang terancam bergeser. Melalui pendekatan yang komprehensif, pembaca diajak untuk melihat bagaimana Islam memperkaya identitas lokal tanpa menghilangkan akar tradisionalnya.
Karya ini menjadi sebuah literatur penting bagi akademisi, budayawan, dan siapa saja yang ingin memahami bagaimana agama dan budaya dapat berjalan beriringan menciptakan harmoni peradaban di ufuk timur Nusantara.

















