Buku ini hadir dari kegelisahan mendalam penulis terhadap kondisi pendidikan di Indonesia. Alasan pertama, pemimpin pendidikan adalah penggerak utama perubahan yang bertanggung jawab memastikan satuan pendidikan siap menghadapi tantangan. Pemimpin yang baik bukan hanya menggerakkan, tetapi juga menginspirasi seluruh anggotanya untuk mencapai tujuan bersama. Mereka adalah “seniman” yang memengaruhi timnya untuk menerjemahkan visi menjadi aksi nyata. Tujuannya adalah menciptakan pemimpin yang mampu mendorong satuan pendidikan menuju mutu yang berkelanjutan, bukan sekadar klaim kosong.
Mutu dalam pendidikan bukanlah sesuatu yang mudah diukur secara fisik. Konsepnya sering kali enigmatik karena melibatkan kepuasan pelanggan, baik siswa maupun guru, yang bersifat abstrak. Tidak seperti barang, mutu pendidikan tidak selalu berkaitan dengan kemewahan fasilitas atau tingginya biaya. Sebaliknya, mutu lebih terkait dengan standar yang diterapkan dan kepuasan pelanggan yang dirasakan. Sebuah sekolah dianggap bermutu jika mampu memberikan layanan prima yang membuat siswa bahagia dan guru merasa didukung, terlepas dari fasilitasnya.
Untuk membangun mindset mutu, buku ini mengadopsi konsep PDCA (Plan, Do, Check, Act) sebagai siklus perbaikan berkelanjutan. Tahap Plan (perencanaan) adalah fase krusial, diikuti oleh Do (pelaksanaan) sesuai rencana. Setelah itu, Check (pengecekan) untuk mengevaluasi kesesuaian, dan diakhiri dengan Act (perbaikan) yang konsisten. Siklus ini memastikan program berjalan efektif dan terus membaik. Mindset mutu harus dimulai dari pemimpin yang memberikan teladan dan memiliki visi yang jelas, bukan sekadar instruksi mendadak tanpa arah yang pasti.

















