Aku lupakan beragam ancam mendarat berupa hantam
Aku tak terampil meredam kelam
Kering nyali seakan membungkam
Membuatku mendekam di tangan penerkam yang menganggapku seperti gulam
Buku berisi kumpulan cerpen berpuisi ini mengajak pembaca untuk berlayar pada lautan khayalan yang amat luas dengan metafora yang apik—mengajak pembaca untuk memaknainya saat berlabuh. Pembaca akan bertemu Aluna yang lihai menciptakan dunia baru, Fara yang bergulat dengan perasaannya sendiri, Kenanga yang selalu ingin menuntaskan kerinduan, Reza yang jiwa raganya terkoyak, Pualam yang tangguh menghadapi aral rintang, dan Aku yang mengakrabi kesunyian.
Tak hanya kompleksitas emosi, cerpen berpuisi ini tentu saja disertai kritik sosial yang menjadi konteks cerita, antara lain persoalan kemiskinan, modernitas gaya hidup, akses terhadap pendidikan, hingga isu gender. Tentu saja persoalan kemanusiaanlah yang menjadi titik berat cerita. Mari berenang dalam lautan cerita, selami misterinya, dan temukan makna terpendamnya!

















