Di kota kecil Ambarawa, rel-rel tua yang pernah menopang perjalanan kolonial kini menjadi saksi bisu yang menyimpan banyak cerita. Buku ini mengajak pembaca menelusuri kembali jejak Kereta Api Ambarawa dari sejarah panjangnya, pesona lokomotif uap, hingga peran museum yang merawat ingatan kolektif. Melalui narasi yang hangat dan personal, pembaca diajak menyaksikan bagaimana sebuah peninggalan masa lalu tetap berdenyut dalam kehidupan masyarakat hari ini.
Lebih dari sekadar catatan sejarah, buku ini menggambarkan ekosistem budaya yang tumbuh di sekitar rel mulai dari gerakan komunitas, UMKM yang terinspirasi heritage, hingga kreativitas generasi muda yang menerjemahkan nostalgia ke dalam media sosial, film, dan digitalisasi museum. Setiap bab memperlihatkan bahwa warisan ini bukan benda mati, melainkan ruang dialog antargenerasi yang membawa kembali makna, kebanggaan, dan identitas.
Buku ini adalah refleksi tentang bagaimana manusia menjaga apa yang pernah hampir hilang. Di antara bara uap, bunyi roda besi, dan jejak digital, pembaca akan menemukan bahwa meski rel dapat berhenti, cerita tidak pernah benar-benar padam. Selama ada yang merawat dan menceritakannya, warisan Ambarawa akan terus bergerak bersama waktu.

















