Syamsiah adalah gambaran nyata wong cilik Indonesia yang hidup dalam kepasrahan, terperangkap dalam sikap fatalistik terhadap kemiskinan. Dalam iman sederhananya, ia hanya bisa mengeluh dan berdoa, tanpa tahu harus berbuat apa. Sementara para politisi dan ulama berbicara tentang kemiskinan dalam pidato-pidato mereka, kenyataannya mereka tidak mendorong tindakan aktif dan solutif. Mereka seolah menjadikan tawakkul sebagai alasan untuk mempertahankan status quo dan meredam gejolak rakyat miskin seperti Syamsiah.
Lingkungan tempat tinggal Syamsiah yang kumuh, ketimpangan sosial yang tajam, dan ketidakadilan ekonomi yang terjadi—termasuk korupsi dan salah arah pembangunan—membuatnya dan orang-orang sepertinya rentan terhadap amarah sosial. Dalam konteks krisis global, naiknya harga dolar dan gelombang PHK memperparah keadaan. Kondisi ini membuat rakyat miskin rawan tersulut untuk melakukan aksi-aksi ekstrem demi bertahan hidup.
Namun, Syamsiah tetap diam. Ia tidak memiliki akses, koneksi, atau kekuatan untuk menyuarakan penderitaannya. Rumahnya tetap bocor, hidupnya tetap miskin. Ia tahu, janji para pemimpin hanyalah lips service. Dalam diamnya, ia menyimpan kesadaran bahwa dirinya tidak berdaya. Pertanyaannya: apakah tawakkul Syamsiah yang dimaksud dalam ajaran Islam? Atau, apakah ini adalah bentuk penyerahan diri yang lahir dari keterpaksaan dan pengabaian sistemik?

















