Obral!

Gender dalam Sistem Subak : Kasus Subak Guama Tabanan-Bali

Rp93.500

Subak memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap citra Bali dengan identitasnya yang unik. Keunikan subak adalah dalam kegiatan ritual keagamaannya yang sangat padat dan terkait erat dengan tahapan-tahapan pertumbuhan tanaman padi. Kegiatan ritual inilah yang merupakan ciri khas subak dan membedakannya dengan sistem irigasi yang lain di dunia.

Berkaitan dengan pengelolaan subak, perempuan memiliki kemampuan yang sebanding dengan laki-laki dalam mengelola subak, terutama dalam mengelola sumber daya subak, penanganan konflik subak, mengelola keadministrasian subak, memelihara fasilitas irigasi ataupun fasilitas ritual, dan juga dalam mengakses inovasi pertanian melalui kegiatan penyuluhan pertanian.

Di sisi lain sering kali dalam kegiatan usaha tani ataupun kegiatan penyuluhan, perempuan tidak dilibatkan dan hanya diposisikan sebagai tenaga kerja atau pembantu saja dalam kegiatan usaha tani ataupun dalam kegiatan yang lainnya. Dalam hal ini tampak bahwa perempuan terpinggirkan dalam kegiatan pengelolaan subak, terutama dalam kegiatan unit ekonomi ataupun dalam mengakses inovasi pertanian melalui kegiatan penyuluhan pertanian.

Selama ini perempuan memiliki akses dan kontrol yang secara sistematis sangat rendah terhadap berbagai sumber produktif, termasuk sumber daya pendidikan, tanah, informasi, keuangan ataupun akses dan kontrol dalam kegiatan sosial, seperti dalam kegiatan keorganisasian di luar rumah, termasuk dalam organisasi subak. Akan tetapi, secara normatif tampak bahwa keterlibatan perempuan dalam pengelolaan organisasi di Subak Guama sangat kecil.

Subak memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap citra Bali dengan identitasnya yang unik. Keunikan subak adalah dalam kegiatan ritual keagamaannya yang sangat padat dan terkait erat dengan tahapan-tahapan pertumbuhan tanaman padi. Kegiatan ritual inilah yang merupakan ciri khas subak dan membedakannya dengan sistem irigasi yang lain di dunia.

Berkaitan dengan pengelolaan subak, perempuan memiliki kemampuan yang sebanding dengan laki-laki dalam mengelola subak, terutama dalam mengelola sumber daya subak, penanganan konflik subak, mengelola keadministrasian subak, memelihara fasilitas irigasi ataupun fasilitas ritual, dan juga dalam mengakses inovasi pertanian melalui kegiatan penyuluhan pertanian.

Di sisi lain sering kali dalam kegiatan usaha tani ataupun kegiatan penyuluhan, perempuan tidak dilibatkan dan hanya diposisikan sebagai tenaga kerja atau pembantu saja dalam kegiatan usaha tani ataupun dalam kegiatan yang lainnya. Dalam hal ini tampak bahwa perempuan terpinggirkan dalam kegiatan pengelolaan subak, terutama dalam kegiatan unit ekonomi ataupun dalam mengakses inovasi pertanian melalui kegiatan penyuluhan pertanian.

Selama ini perempuan memiliki akses dan kontrol yang secara sistematis sangat rendah terhadap berbagai sumber produktif, termasuk sumber daya pendidikan, tanah, informasi, keuangan ataupun akses dan kontrol dalam kegiatan sosial, seperti dalam kegiatan keorganisasian di luar rumah, termasuk dalam organisasi subak. Akan tetapi, secara normatif tampak bahwa keterlibatan perempuan dalam pengelolaan organisasi di Subak Guama sangat kecil.

Jumlah Halaman

x + 151

Penulis

Prof. Dr. Ir. Ni Wayan Sri Astiti, M.P. Prof. Dr. Ir. I Ketut Suamba, M.P.

Ukuran Buku

15.5 x 23

Ulasan

Belum ada ulasan.

Jadilah yang pertama memberikan ulasan “Gender dalam Sistem Subak : Kasus Subak Guama Tabanan-Bali”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kategori