Lompat ke konten

Bintang Pustaka I Penerbit Buku Pendidikan I Anggota IKAPI

Obral!

Saatnya Tiba : Novela Hormonal ke Meritokrasi

Harga aslinya adalah: Rp95.000.Harga saat ini adalah: Rp80.750.

“Selamat datang di Kerajaan Astina Arthapura, sebuah negeri di mana kebijakan publik lahir dari desahan di balik tirai sutra, dan nasib satu bangsa ditentukan oleh siapa yang paling jago memijat punggung sang Raja.”

Prabu Dirga adalah potret kita semua saat masih dikuasai hormonal. Ia mengira kejantanan adalah takhta, dan banyaknya anak adalah bukti kedaulatan. Baginya, urusan negara bisa menunggu, tapi selir baru tidak boleh digantung. Namun, saat kas negara habis untuk membeli skincare permaisuri dan rakyat mulai dipaksa makan harapan palsu dari drama sinetron, istana megah itu mulai bergetar.

Di sisi lain, ada Ratu Kencana. Wanita yang dibuang karena terlalu pintar, tetapi memilih bangkit bukan untuk balas dendam, melainkan untuk mandiri. Ia membuktikan bahwa dari ‘hamba’ yang ditindas, seseorang bisa menjadi setara hanya dengan mengasah skill dan ketajaman bisnis. Ia adalah personifikasi dari kemandirian yang mutlak. Menelurkan Jukri sebagai genetika yang terbentuk, mengambil alih kekuasaan dan pembaharuan KIOS sebagai landasan DNA kerajaannya.

Lewat kisah satire yang gamblang tetapi mengiris hati ini, kita melihat perjalanan waktu dalam diri manusia. Bagaimana kita sering terjebak dalam fase hormonal (nafsu buta). Lalu bagaimana kita berjuang mencari kemandirian (kedaulatan diri). Hingga bagaimana kita mencapai meritokrasi batin (kebergunaan).

Buku ini bukan sekadar cerita tentang raja yang doyan kawin dan haus validasi. Ini adalah cermin. Sebuah tutorial tentang bagaimana caranya berhenti menjadi budak dari keinginan sendiri dan mulai menjadi penguasa atas jiwa yang penuh cinta.

“Satu kerajaan bisa runtuh karena satu selangkangan, tapi satu jiwa bisa bangkit karena satu penyadaran.”

Kategori: Tag: ,

“Selamat datang di Kerajaan Astina Arthapura, sebuah negeri di mana kebijakan publik lahir dari desahan di balik tirai sutra, dan nasib satu bangsa ditentukan oleh siapa yang paling jago memijat punggung sang Raja.”

Prabu Dirga adalah potret kita semua saat masih dikuasai hormonal. Ia mengira kejantanan adalah takhta, dan banyaknya anak adalah bukti kedaulatan. Baginya, urusan negara bisa menunggu, tapi selir baru tidak boleh digantung. Namun, saat kas negara habis untuk membeli skincare permaisuri dan rakyat mulai dipaksa makan harapan palsu dari drama sinetron, istana megah itu mulai bergetar.

Di sisi lain, ada Ratu Kencana. Wanita yang dibuang karena terlalu pintar, tetapi memilih bangkit bukan untuk balas dendam, melainkan untuk mandiri. Ia membuktikan bahwa dari ‘hamba’ yang ditindas, seseorang bisa menjadi setara hanya dengan mengasah skill dan ketajaman bisnis. Ia adalah personifikasi dari kemandirian yang mutlak. Menelurkan Jukri sebagai genetika yang terbentuk, mengambil alih kekuasaan dan pembaharuan KIOS sebagai landasan DNA kerajaannya.

Lewat kisah satire yang gamblang tetapi mengiris hati ini, kita melihat perjalanan waktu dalam diri manusia. Bagaimana kita sering terjebak dalam fase hormonal (nafsu buta). Lalu bagaimana kita berjuang mencari kemandirian (kedaulatan diri). Hingga bagaimana kita mencapai meritokrasi batin (kebergunaan).

Buku ini bukan sekadar cerita tentang raja yang doyan kawin dan haus validasi. Ini adalah cermin. Sebuah tutorial tentang bagaimana caranya berhenti menjadi budak dari keinginan sendiri dan mulai menjadi penguasa atas jiwa yang penuh cinta.

“Satu kerajaan bisa runtuh karena satu selangkangan, tapi satu jiwa bisa bangkit karena satu penyadaran.”

Jumlah Halaman

xii + 124

Penulis

Tony Sukandi

Ukuran Buku

14 x 20

Kategori