Penulis Harus Paham Proses

Penulis Harus Paham Proses

Apa yang akan ditulis? (Topik) Mengapa menulis? (Tujuan) Mau ditulis seperti apa? (Jenis) Tulisan ini untuk siapa? (Target pembaca) Sebelum menulis usahakan pertanyaan ini harus dijawab terlebih dahulu. Sebab, empat gagasan inilah yang akan menjadi pondasi dasar dari sebuah tulisan.

Sesuai dengan judul di atas, menulis tidak hanya bermodal laptop, niat dan yakin saja. Tapi menulis butuh beberapa tahapan yang harus dilalui. Jika menulis dapat menambah kreativitas seseorang, memahami proses bisa membuat penulis lebih menikmati penulisannya.

Proses Pertama

Prewriting- aktivitas pertama yang akan dilakukan oleh penulis. Dalam proses ini, penulis harus menuangkan semua gagasannya seperti topik, tujuan, jenis dan target pembaca. Banyak penulis yang memiliki ide yang bagus tapi susah untuk mendiskripsikannya. Oleh karena itu dalam proses ini, penulis harus benar-benar mendiskripsikan ide secara detail. Apa saja yang perlu diuraikan oleh penulis?

Baca juga : Mengungkap Rahasia Cara Menulis dan Menerbitkan Buku

Pilih Topik

Pertama, tentukan topik tulisan. Cara menentukan topik tulisan bisa dimulai dari hal yang paling terdekat atau dipahami oleh penulis. Semakin dekat topik tersebut dengan penulis, semakin mudah pula pembaca memahaminya. Sebab ketertarikan penulis adalah awal dari ketertarikan pembaca.

Mengumpulkan Bahan

Lucu jadinya, jika seorang penulis hanya memiliki ide tapi tidak ada data. Mau menulis apa mau menghayal? Jangan sampai penulis krisis akan data dari tulisannya sendiri. Kelengkapan data sangat mempengaruhi kesempurnaan tulisan. Penulis tentunya memberikan misi khusus dalam tulisannya yaitu berupa pesan atau informasi yang akan disampaikan. Jika pesan atau informasi tersebut kurang maksimal, konsekuensinya pembaca akan menerima ketidaksempurnaan dari pesan tersebut.   

Menyusun Kerangka

Setelah bahan terkumpul, jangan lupa untuk menyusun kerangka tulisan. Seperti kata pengantar, bab, isi, kesimpulan dan daftar pustaka.

Proses Kedua

Drafting- proses pemindahan ide penulis ke dalam kertas. Proses ini, penulis sudah bisa mulai menulis sesuai dengan apa yang ada di proses pertama. Lalu bagaimana cara menulis draf yang baik? Bambang Trim dalam bukunya “Menulis Saja” menjelaskan ada empat formula menulis draf naskah yang baik.

Menulis Bebas

Tulislah apa yang penulis inginkan tanpa harus pusing dengan aturan penulisan. Selama menulis, penulis tidak boleh mengedit tulisannya. Biarkan tulisannya mengalir terlebih dahulu.

Bayangkan Pembaca

Seperti yang disebutkan di atas, penulis dalam menulis sebuah tulisan pasti memiliki maksud tertentu. Oleh karena itu, sekarang bayangkan saja sedang mengobrol dengan pembaca agar ungkapan tulisannya menjadi lebih akrab.

Ikuti Kerangka

Penulis tetap harus mengikuti kerangka tulisan yang telah dibuat.

Menahan Diri

Hindari pembacaan draf naskah sebelum selesai ditulis dan juga jangan mengedit sebelum waktunya tiba.

Proses Ketiga

Revising- Proses dimana draf naskah yang penulis tulis bisa diperbaiki atau diperbagus. Proses ini penulis bisa menambahi, mengurangi atau mengganti struktur tulisan. Penulis juga bisa meminta pendapat orang lain untuk mengomentari tulisannya.

Proses Keempat

Editing- proses ini dilakukan penulis untuk mengoptimalkan naskah dari kesalahan baik secara konten/isi atau ejaan kepenulisan. Proses editing bisa dilakukan oleh penulis sendiri atau meminta bantuan orang lain.

Proses Kelima

Publishing- proses terakhir adalah menerbitkan tulisan menjadi buku. Jangan lupa carilah penerbit yang sesuai dengan naskah penulis. Penulis juga harus pastikan penerbitan tersebut sudah memiliki website, marketplace dan MOU yang jelas agar naskahnya aman dari pembajakan atau penyalahgunaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.