Penulis, dengan kerendahan hati yang terpaksa, menyadari betapa absurdnya dunia ini. Pantat tiba-tiba bergetar, mengeluarkan, sebuah pertanda bahwa ada yang janggal dalam relung peradaban. Penulis yang merasa prihatin kepada orang-orang seperti Guru Gembul, Ferry Irwandi, Panji, Mas-Mas Metro TV, Rocky Gerung, Refly Harun, Abraham Samad, dan orang-orang lainnya yang sedang mencoba mengubah warna lautan yang biru menjadi hijau, jadi di sini penulis hanya ingin mencoba ikut sedikit membantu walaupun sepertinya tidak benar-benar membantu.
Bersiaplah memasuki labirin absurditas: penulis memulai perjalanan dengan meratapi kenyataan pahit, di mana kejujuran—yang seharusnya menjadi fondasi peradaban—telah tereduksi menjadi komoditas langka, diperdagangkan di pasar gelap nurani, bak berlian berlumur dosa.
Kemudian, penulis menimbang kekuatan propaganda, senjata bermata dua yang mampu melukis ulang realitas. Bisakah propaganda diabdikan pada kebenaran, ataukah ia akan terus menjadi alat para manipulator ulung?
Selanjutnya—dengan nada yang penuh harap dan sedikit ngeri—penulis membayangkan sistem kasta yang telah menjadi musuh dalam sejarah peradaban disulap menjadi tangga menuju nirwana, sebuah struktur yang adil di mana kebajikan menjadi ukuran tertinggi. Mungkinkah? Dan tentunya ada banyak lagi ide-ide lainnya yang tak kalah ketidakjelasan dan kengawurannya.
Semua ini, tentu saja, hanyalah permainan kata-kata, upaya menghibur diri di tengah hiruk pikuk realitas. Namun, siapa tahu, di balik tawa, tersembunyi secercah harapan yang mampu menggerakkan kita.
















